Posted October 31, 2011 by admin in Berita

Pejuang 45 Prof.Ir. Soehadi Reksowardojo

Surat Keputusan Dewan Harian Daerah 45 Jawa Barat No. 04/SKEP/A-45/X/2011 tanggal 10 Oktober 2011 tentang Piagam Bambu Runcing Pejoang 45 bagi almarhum Bapak Prof.Ir. Soehadi Reksowardojo (Guru Besar ITB) sungguh tepat diterbitkan mengingat catatan historis yaitu bahwa dalam rangka nasionalisasi perusahaan2 Belanda pada akhir tahun limapuluhan, berdasarkan mandat dari Panglima Territorial III / Divisi Siliwangi, Ir Soehadi memimpin pengambilalihan pabrik2 kertas (Padalarang dan Leces), pabrik Kina serta pabrik Zat Asam (di Bandung) dan bahkan kemudian menjadi Ketua Dewan Pimpinan (Board of Management) dari kedua pabrik tersebut.

Riwayat pekerjaan almarhum berawal sebagai Sersan Mayor TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dengan jabatan Inspektur Pendidikan Perwira pada TKR Divisi VII Mojoagung, Jawa Timur pada tahun 1945 sampai 1946. Pada periode 1947 – 1948 beliau bertugas di Depot Gerilya Wilayah Jawa Tengah Selatan dan di masa penumpasan pemberontakan Madiun menjadi anggauta “Security & Kampwezens” dari Kementerian Pertahanan RI. Sebagai perwira (Kapten TNI) pada Brigade XVII, beliau melontarkan gagasan2 milisi pelajar dan mahasiswa serta pendirian sekolah2 front perjuangan. Beliau sendiri kemudian menjadi salah satu pelaksana gagasan2 ini dalam jabatannya sebagai Guru Kelas I SMA dibawah Kementerian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (PP&K) mulai bulan September tahun 1949 (Pangkat ketentaraan terakhir beliau adalah Mayor TNI).

Prof Ir Soehadi Reksowardojo dilahirkan di Salatiga, tanggal 29 Juli 1923 sebagai putera ke-2 dari Bapak Soemadi Reksowardojo dan ibu Soemirah Wirowardojo, kini bermakam di TPU Sirnaraga Blok-C Barat, Bandung.

Riwayat pendidikan formal almarhum dimulai pada tahun 1930 ketika beliau memasuki “Openbare Hollands Inlandse School” yang diselesaikan pada tahun 1937. Beliau kemudian meneruskan ke “Gesubsideerd Mulo Pasundan” di Tasikmalaya dan mendapatkan ijazah pada tahun 1940. Pada tahun itu juga almarhum melanjutkan studinya di “Gouvernements Middlebaar Technische School, Afdeling Technische Scheikunde” di Surabaya. Pada masa pendudukan Jepang, sekolahnya berganti nama menjadi “Surabaya Koto Chu Gakku” (Sekolah Menengah Tinggi Surabaya, Bagian B), pendidikan ini diselesaikannya pada tahun 1945 dengan meraih ijazah berpredikat istimewa. Prestasi ini membuat beliau bisa diterima di “Bandung Kogyo-Dai-Gakku Oyo-Kagaku-Ka”, yang setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia berganti nama menjadi “Sekolah Tinggi Teknik Bandung, Bagian Teknik Kimia”. Pada masa Aksi Militer, sekolah tinggi ini hijrah ke Yogyakarta dan bernama “Perguruan Tinggi Teknik Republik Indonesia”. Beliau berhasil menyelesaikan tahap “propadeuse” (tingkat pertama) pada tahun 1948. Keterlibatannya dalam perjuangan bangsa merebut kedaulatan kemudian membuatnya terpaksa meninggalkan bangku kuliah. Setelah pengakuan kedaulatan, beliau ditugaskan kembali melanjutkan studi ke Bagian Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung dan mendapatkan ijazah sarjana teknik kimia (Ir) dengan predikat “cum laude” pada tahun 1957.

Ketika melaksanakan tugas melanjutkan studi di Bagian Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung, beliau adalah Penasehat Kementerian PP&K dan Pertahanan dalam urusan demobilisasi. Selain itu, sampai tahun 1955, juga aktif sebagai ketua Corps Mahasiswa. Pada tahun tersebut, beliau diangkat menjadi Asisten Tingkat I Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) UI di Bandung dan setelah lulus sebagai insinyur kimia pada tahun 1957, sebagai staf pengajar pada FIPIA UI, Ir Soehadi tercatat sebagai Sekretaris Bagian Teknik Kimia, Fakultas Teknik UI pada tahun 1958 dan berperan besar dalam penyusunan konsep pembentukan Institut Teknologi Bandung (ITB), beliau adalah pencetus/perumus faksafah Tri Soko Guru (Pendidikan-ilmiah, Penelitian-ilmiah, dan Afiliasi-industri) yang merupakan landasan pengembangan ITB dan kemudian berkembang menjadi Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian pada masyarakat) atas keputsan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) Prof Tojib Hadiwidjaja pada tahun 1962, beliau jugalah pendiri dan sekaligus Sekretaris pertama dari Lembaga Afiliasi dan Penelitian Industri (LAPI) ITB.

Kemenonjolan prestasinya itu kemudian menyebabkan beliau diangkat menduduki berbagai jabatan penting/kunci seperti :

(1) Anggauta Panitia Pembangunan pada Dewan Perancang Nasional (DEPERNAS, 1960), (2) Ketua Sub Panitia Khusus Pelaksana Protokol USSP, Proyek Fakultas Teknologi di Ambon (1960), proyek ini berlandaskan pemikiran perlu adanya suatu pusat pembangunan di Indonesia Bagian Timur, (3) Direktur Badan Pimpinan Umum Industri Kimia (BPUK,1961), (4) Pegawai Tinggi Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) diperbantukan pada Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga (PUT, 1962), (5) Project Manager pelaksanaan Proyek Pembangunan Fakultas Teknologi Ambon (1962), (6) Ketua Tim Pengamanan / Pengawas Produksi “The Dunlop Rubber Company Ltd” dan “The Good Year Tire and Rubber Co” (1963), (7) Dosen dalam bidang teknologi pada Lembaga Pertahanan Nasional (LEMHANAS, 1965), (8) Pembantu Menteri Perindustrian Dasar urusan Industri Kimia (1965), (9) Pembantu Menteri Perindustrian Dasar urusan Industri Kimia (1965), (10) Menteri Urusan Research Nasional dalam Kabinet Dwikora yang disempurnakan (1966), (11) Menteri/Ketua Lembaga Research Nasional dalam Kabinet Ampera (1966).

Dari tahun 1968 sampai dengan 1974 beliau aktif sebagai konsultan berbagai perusahaan/industry antara lain dalam pembinaan aspek teknologi dalam organisasi perbankan, pembinaan industri anak bangsa, dan pembinaan industry HanKam. Beliau kemudian kembali ke Institut Teknologi Bandung dan diangkat sebagai Guru Besar Teknik Kimia (1975). Dalam masa jabatannya sebagai Guru Besar, beliau membina mata kuliah Jurusan Teknik Kimia ITB dan Industri di Indonesia dengan perguruan2 tinggi teknik di negeri Belanda (Delf, Twente, Eindhoven) yang berhasil meningkatkan sarana dan mutu pendidikan, menggalakkan penelitian2, antara lain dalam bidang Gasifikasi Biomasa dan pembuatan setempat (In-situ Generation) dan Desinfektan Air Minum, serta memungkinkan beberapa Staf Pengajar muda Jurusan Teknik Kimia ITB mencapai gelar Doktor dalam Ilmu Teknik sekalipun resminya telah pension pada tahun 1988, beliau masih tetap aktif membina dan mengarahkan berbagai kegiatan di ITB.

Atas jasa2nya tersebut, beliau dianugerahi Satya Lencana Karya Sapta Tingkat II pada tahun 1981 oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Demikianlah uraian ringkas dari seorang besar, pekerja keras yang cendekia, berwawasan luas dan bersemangat Hercules serta Pejoang Tanpa Akhir (PETA). Semoga amal bakti Prof Ir Soehadi Reksowardojo mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT dan arwah beliau mendapat tempat bersamaNya, serta semoga generasi penerus 45 dapat meneladani dan memaknai perjuangan beliau bagi bangsa dan Negara terutama menjelang Hari Pahlawan 10 Nopember 2011 yad.ini.

Jakarta Selatan, 17 Oktober 2011 / Pandji R Hadinoto / PKP45 / DHD45 Jakarta

http://jakarta45.wordpress.com/2011/10/18/khazanah-pejoang-45-prof-ir-soehadi-reksowardojo/

Share this