Posted November 8, 2011 by admin in Berita

Pembuat Pakan Ikan Apung dari ITB

BANDUNG, KOMPAS – Peneliti Institut Teknologi Bandung menciptakan mesin pembuat pakan ikan yang dapat mengapung dengan ongkos produksi pakan per kilonya Rp. 5.000 – Rp. 6.000. Mesin ini diharapkan menjadi harapan peternak ikan yang tergantung pada pakan pabrikan, serta menggerakkan ekonomi rakyat untuk pemanfaatan limbah organik.

Mesin itu dikembangkan Laboratorium Proses Material Fakultas Teknologi Industri ITB bekerjasama dengan Balai Besar Logam dan Mesin Kementrian Perindustrian. Rampung dikembangkan awal 2011, mesin ini sudah dipesan 150 unit oleh berbagai pihak. Mesin ditawarkan Rp. 120 juta per unit.

“Kapasitas produksi 1 ton per hari dengan operasional enam jam. Cukup untuk perikanan 10 hektar” kata Bambang Sunendar dari Laboratorium Proses Material FTI ITB, Selasa (1/11).

Menurut Bambang, salah satu kunci memproduksi pakan yang bisa mengapung adalah pemberian uap bertekanan selama proses. Selain mensterilkan bahan baku dari kuman, uap air membentukanya menjadi semacam adonan kenyal lewat proses polimerisasi, Selama proses itu, udara akan terperangkap dalam pori-pori kecil dan membuatnya mengambang saat dpermukaan air.

Penemuan mesin ini diharapkan jadi kunci kemandirian pembudidaya ikan dari pakan pabrikan. Selama ini, upaya menghasilkan pellet secara mandiri terkendala teknologi dan pengetahuan membuatnya mengapung.

Limbah Pertanian

Salah satu bahan baku pakan yang dapat digunakan adalah limbah pertanian. “Artinya takhanya peternak ikan yang diuntungkan, petani sekitar juga mendapat manfaat,” kata Bambang.

Kepala Biro Perikanan Budidaya Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Muhamad Husen mengungkapkan, salah satu kendala dalam produksi pakan secara mandiri adalah faktor membuatnya tetap mengapung di air. Ini penting, karena pakan yang tenggelam bakal membusuk dan tidak dikonsumsi ikan. Selain boros, bisa menimbukan racun.

Ia mengatakan, meskipun pakan ikan bisa diproduksi sendiri, peternak harus tetap memahami komposisi yang dibutuhkan ikan, seperti protein. Pasalnya kebutuhan protein untuk ikan yang dibesarkan ataupun pengeemukan, jumlahnya berbeda. (ELD)

Sumber: Harian Kompas, 2 November 2011

Share this