Posted February 9, 2012 by admin in Berita

Kuliah Umum Prof. Leon Janssen: Plus or Minus Forty Years, An Engineering Approximation to Futurology

BANDUNG, itb.ac.id – Prof. Leon P.B.M. Janssen, dari Departemen Teknik Kimia, Fakultas Matematika dan Sains, Universitas Groningen, Belanda, memberikan kuliah umum kepada mahasiswa ITB pada Jumat (03/02/12). Kuliah umum yang berjudul “Plus or Minus Forty Years: An Engineering Approximation to Futurology” ini diselenggarakan di ruang X-239 Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, ITB. Dalam kuliah ini Prof. Janssen menjelaskan bagaimana 40 tahun yang lalu para futurologis memprediksikan masa kini, membandingkannya dengan kenyataan yang terjadi, lalu mencoba memprediksikan bagaimana teknologi akan berkembang 40 tahun dari sekarang.

Kuliah dibuka dengan deskripsi Prof. Janssen mengenai kondisi teknologi dan masyarakat 40 tahun lalu (sekitar tahun 1970-an), di mana industrialisasi berkembang sangat pesat di Eropa. Ketika itu, permasalahan lingkungan belum menjadi pusat perhatian dari masyarakat, namun seiring dengan meningkatnya dampak-dampak polusi terhadap kesejahteraan manusia, kesadaran baru mulai muncul. Banyak prediksi ‘kehancuran dunia’ yang naik ke permukaan, seperti ketakutan akan membludaknya populasi manusia secara eksponensial, kelaparan global pada tahun 2010, serta menurunnya angka harapan hidup manusia dan kerusakan alam akibat polusi kimia dan nuklir.

Kenyataannya, pada tahun 2011, populasi dunia ‘hanya’ berlipat dua, produksi pangan dunia meningkat 30%, dan angka harapan hidup global bukannya menurun, malah naik sebesar 30%. Kenyataan ini, walaupun bukan merupakan kondisi ideal, jauh lebih baik daripada yang pernah diprediksikan oleh para futurologist 40 tahun lalu. Lalu bagaimana nasib Bumi kita 40 tahun mendatang? Mampukah kita memprediksikannya dengan lebih baik?

Prediksi dengan Pendekatan Alkimia

Prof. Janssen melakukan usaha untuk mengekstrapolasi gambaran dunia 40 tahun mendatang dari pengalaman-pengalaman selama 40 tahun yang telah lewat menggunakan basis alkimia. Seperti yang banyak diketahui, alkimia kuno memiliki empat elemen dasar: api, air, tanah, dan udara. Prof. Janssen mengibaratkan api sebagai bidang energi, air sebagai bidang pangan, tanah sebagai bidang bahan mentah, dan udara sebagai bidang lingkungan.

Prof. Janssen melakukan usaha untuk mengekstrapolasi gambaran dunia 40 tahun mendatang dari pengalaman-pengalaman selama 40 tahun yang telah lewat menggunakan basis alkimia. Seperti yang banyak diketahui, alkimia kuno memiliki empat elemen dasar: api, air, tanah, dan udara. Prof. Janssen mengibaratkan api sebagai bidang energi, air sebagai bidang pangan, tanah sebagai bidang bahan mentah, dan udara sebagai bidang lingkungan.

Menurutnya, agar bisa menjaga keberlanjutan kehidupan yang lebih baik di masa depan, masyarakat dunia membutuhkan teknologi pengolahan air yang lebih baik, kehati-hatiaan dalam penggunaan biomassa untuk industri kimia dan pangan (sementara menurutnya tidak aka nada kompetisi antara pangan dan energi). Perubahan iklim merupakan hal yang penting untuk diperhatikan, namun tidak akan banyak mempengaruhi produksi pangan dunia.

Bidang Rekayasa sebagai Faktor Pembatas Perkembangan Dunia

Selain itu, hal lain yang penting menurut Prof. Janssen adalah bahwa bidang rekayasa (engineering) akan menjadi faktor pembatas dalam perkembangan dunia. Banyak permasalahan yang telah dirumuskan dan diselesaikan dengan baik oleh para ilmuwan, tetapi masih menunggu kerja keras pada insinyur untuk mewujudkannya. Karena itu, Prof. Janssen menganjurkan berbagai negara agar mencetak sebanyak mungkin insinyur yang berkualitas, yang kuat pengetahuannya akan perancangan (design) yang baik.

“Adalah sebuah keniscayaan bahwa teknologi akan mengarahkan perkembangan dunia,” ujar Prof. Janssen dalam penutup kuliahnya, “Masa depan terlalu penting untuk dititipkan hanya kepada para politisi dan pembuat kebijakan.”

Sumber: www.itb.ac.id

Share this