Posted May 3, 2012 by admin in Berita

Mahasiswa ITB Raih Runner Up pada Accenture Gives, Skills to Succeed

BANDUNG, itb.ac.id – Sekelompok mahasiswa ITB meraih Runner Up pada Accenture Gives, Skills to Succeed. Pada kompetisi ini, peserta diharuskan menyusun rencana proyek yang memberikan pengembangan sosial berkelanjutan. Yakin akan feasibility dan sustainability proyek yang diajukan tim ITB, Accenture Indonesia memberi predikat juara kedua kepada tim ITB beserta modal sebesar 55 juta rupiah untuk pelaksanaan proyek.

Proyek yang dirancang oleh mahasiswa ITB berlokasi di desa Pakutandang, Ciparay, Bandung. Desa ini juga merupakan lokasi pengabdian masyarakat Himpunan Masyarakat Teknik Kimia (HIMATEK ITB) pada 2008 dalam pengenalan system rice intensification (SRI) untuk penanaman padi, serta pembuatan kompos dengan Mikro Organisme Lokal (MOL). Selain Himatek, Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) juga pernah mengadakan proyek pembangunan fasilitas dan penyuluhan sanitasi di desa ini.

Tim Ganesha beranggotakan Vincentius Dito Krista Holanda (Teknik Kimia 2008) sebagai CEO, Fathir Ramadhan (Teknik Industri 2008) sebagai Operations Director, Vicario Reinaldo (Teknik Industri 2010) sebagai Supply Chain Director, Meutia Arinta (Teknik Lingkungan 2009) sebagai Human Resource dan Environmental Director, Yosaka Eka Putranta (Teknik Perminyakan 2009) sebagai Marketing Director, serta Mohamad Rimba Putra (Sekolah Bisnis dan Manajemen 2010) sebagai Finance Director.

Keenam mahasiswa ini merancang rencana bisnis yang menghasilkan tiga lini produk: seprei dan bedcover, tas, dan pakaian wanita. Uniknya, produk-produk ini didesain menggunakan bahan baku sisa produksi / kain perca. Kain perca nantinya akan digabung bersama bahan kain komersil yang dibeli dalam satuan meter di pasar kain. Penggabungan bahan-bahan baku dilakukan menggunakan teknik quilting (seni menggabungkan kain yang berbeda motif dan ukuran menjadi satu produk – red).

Rencana Bisnis dari Hulu ke Hilir

Untuk menyusun rencana bisnis, Tim Ganesha terlebih dahulu melakukan riset pasar. Riset pasar dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada konsumen potensial dan wawancara para pelaku usaha sejenis. Produk rancangan Tim Ganesha dipasarkan dengan brand Ciparay’s Heritage.

Selanjutnya, dilakukan perencanaan produksi. Tim Ganesha melakukan survey ke lokasi yang menyediakan bahan baku dengan harga murah: Cigondewah dan Pasar Baru, Bandung. Kedua lokasi ini menyediakan kain untuk pembelian eceran maupun grosir, dengan berbagai motif, warna, jenis, dan ukuran. Tim Ganesha juga melakukan survey ke lokasi produksi potensial, Desa Pakutandang, Ciparay, dan memperkenalkan rencana proyek kepada pemuka masyarakat setempat.

Setelah mengetahui ukuran lot pemesanan bahan baku, harga bahan baku, serta harga mesin dan alat-alat menjahit, tim menyusun struktur biaya. Struktur biaya produksi dan biaya pemasaran kemudian diterjemahkan menjadi proyeksi finansial berupa nominal investasi yang dibutuhkan, laporan laba – rugi, dan proyeksi arus kas.

Pada bulan-bulan awal, rencana ini akan melibatkan minimal 12 orang warga. Rencana diproyeksikan mengalami upscale setiap tiga bulan sekali. Pada akhir tahun kedua, jumlah warga yang terlibat naik dari 12 menjadi 37 orang dengan penghasilan tambahan sebesar Rp300.000 hingga Rp700.000 per warga per bulan.

Sebagai penyelenggara program, pada awalnya, Accenture Indonesia hanya akan memberi modal usaha bagi tim juara. Setelah menyaksikan presentasi Tim Ganesha, dewan juri merasa yakin atas feasibility dan keberlangsungan proyek, sehingga memutuskan memberi Tim Ganesha predikat juara kedua dan modal 55 juta rupiah. Tim juara adalah Garuda Youth Community, Universitas Indonesia, yang mendapat modal usaha sebesar 75 juta rupiah.

Keberhasilan Tim Ganesha menunjukkan bahwa mahasiswa ITB memiliki skill wirausaha yang potensial. Mahasiswa ITB mampu tidak hanya menjadi pekerja, namun juga menciptakan lapangan kerja. by fathir

sumber: http://www.itb.ac.id/news/3593.xhtml

Share this