Posted May 14, 2014 by admin in Berita

Mahasiswa Teknik Industri Juara dalam Ajang LKTI

LKTI 2014-1
LKTI 2014-1

Mahasiswa Teknik Industri ITB kembali menyabet gelar juara 2 dalam Lomba Keilmuan Teknik Industri (LKTI) pada maret 2014 lalu. Mereka adalah Anggoro Bintang, Joseph Widagdo, Michael Julianto (Teknik Industri 2010), dan Andreas Dymasius (Teknik Industri 2011). LKTI ini diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Teknik Industri (IMTI) Universitas Indonesia (UI). Ini merupakan kali ke-14  ITB menjadi peserta LKTI dan pada setiap tahun, LKTI mengusung tema yang berbeda-beda. Pada tahun ini, tema yang dibawa adalah Welcoming 2015 ASEAN Open Sky: Escalating Nation’s Airlines Competitiveness through Service Management“.

LKTI 2014 ini terdiri dari dari 3 tahap, yaitu preliminary stage, Initial Enrollment Questionnaire (IEQ) stage, simulation, dan real case study. Pada tahap preliminary, seluruh mahasiswa teknik industri se-Indonesia menyerahkan paper mengenai analisis antisipasi dan hal-hal yang harus dipersiapkan oleh suatu maskapai penerbangan dalam menghadapi ASEAN Open Sky 2015. Dari preliminary stage ini dipilih 25 tim yang terdiri dari berbagai universitas di Indonesia. “Sebelumnya ITB mengrimkan 2 tim, tetapi yang berhasil lolos di tahap preliminary ini hanya 1 tim,” jelas Andre.

Tahap selanjutnya merupakan tahap IEQ yang dilaksanakan di Universitas ini. Tahap ini dibagi menjadi tiga bagian. “Kami diinstruksikan untuk menjawab soal-soal yang diberikan oleh panitia,” jelas Andre. Terdapat tiga jenis soal yang dilombakan pada tahap ini. Soal pertama terdiri dari 50 soal pilihan ganda. Kemudian dilanjutkan dengan soal isian, dan ditutup dengan babak soal taruhan. “Dalam babak soal taruhan, kami diminta untuk menaruhkan poin kami dengan jumlah tetentu pada suatu soal, dan apabila kami menjawab benar, poin kami akan dilipat gandakan, dan apabila salah kami akan kehilangan poin sejumlah yang kami taruhkan,” tambah Andrew.

Pada tahap selanjutnya, yaitu tahap simulasi peserta diinstruksikan untuk memainkan sebuah game yang telah dirancang oleh panitia. Game ini berisi tentang manajemen air line company yang mengharuskan peserta mengambil keputusan-keputasan pada setiap case yang diberikan. “Dalam game ini, kami bertindak sebagai direktur suatu maskapai penerbangan, dan bertugas untuk memecahkan kasus-kasus yang ada melalui pertimbangan dan perhitungan yang telah kami lakukan,” jelasnya. Masalah yang harus dipecahkan adalah menyakut hal-hal yang harus dilakukan maskapai dalam menghadapi ASEAN Open Sky 2015, seperti rute mana yang akan dibuka, berapa banyak pesawat yang akan ditambah, jenis mesin yang digunakan, dan sebagainya.

Babak final berisi mengenai real case study dengan masakapai penerbangan yang telah ditentukan. Maskapai penerbangan yang digunakan sebagai real case study adalah Garuda Indonesia. Sebelum masuk ke casenya, Garuda Indonesia menjelaskan informasi dan kondisi nyata yang sedang terjadi di perusahaan. Dari pemaparan kondisi dan informasi perusahaan, peserta diwajibkan untuk menjawab daftar pertanyaan yang telah dibuat. “Pada tahap ini kami bertindak sebagai konsultan untuk membantu perusahaan dalam mengambil keputusan,” jelas Andre.

“Pada saat menjawab pertanyaan, kami melakukan pendekatan-pendekatan dengan tools yang memang common di keilmuan TI,” jelas Andre. Contoh tools yang kami gunakan adalah, definemeasureanalyzeimprovecontrol. “Tools tersebut merupakan tools standar yang digunakan oleh insyinyur teknik industri dalam menyelesaikan masalah,” tambah Andre. Tools lain yang diguanakan adalah BCG matriks. BCG matriks berguna untuk memetakan kondisi suatu perusahaan apakah perusahaan tersebut sedang berkembang atau bahkan perusahaan tersebut memang sudah waktunya gulung tikar. “Tools ini membantu kami untuk menentukan keputusan yang tepat untuk diambil,” jelas Andre.

Dalam memecahkan masalah yang diberikan, tim ITB melakukan suatu inovasi yakni menambahkan alat detektor yang bernama RFID pada setiap koper yang ditempatkan di gudang pesawat. “Inovasi ini kami ciptakan karena memang banyak kasus kehilangan barang-barang penumpang di peswat,” jelas Andre. Dengan alat detektor ini, diharapkan kualitas pelayanan dari maskapai meningkat, dan dapat menarik jumlah penumpang yang sekaligus meningkatkan profit perusahaan.

“Peringkat ITB yang tinggi di Indonesia tidak akan bertahan jika mahasiswanya tidak mau menciptakan karya-karya dan prestasi yang memang berguna untuk menyelesaikan permasalahan suatu bangsa. Oleh karena itu, untuk membuktikan kepada masyarakat luas bahwa ITB memang layak mendapatkan predikat universitas ternama, dapat dilakukan dengan menjuarai di setiap kompetisi yang ada. Karena saya yakin, anak ITB memiliki potensi untuk terus berkarya dan berprestasi,” tutup Andre.
Sumber: www.itb.ac.id

Share this