Posted January 27, 2015 by admin in Berita

Mahasiswa Teknik Kimia ITB Juara 1 pada Kompetisi Esai Ekonomi Internasional

crooping-1_resize
crooping-1_resize

Memiliki pengetahuan luas merupakan salah satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap mahasiswa. Bagi mahasiswa ITB sendiri yang mayoritas terdiri dari bidang engineering dituntut pula untuk dapat menguasai hal-hal diluar keprofesiannya. Dedi Hermawan (Teknik Kimia 2011) merupakan salah satu bukti dari mahasiswa ITB yang mampu berkarya melalui bidang non-engineering. Melalui esai ekonomi yang dibuatnya, Dedi berhasil menjuarai kompetisi Intenational Challenge On Economic Ideas (ICEI) 2014 yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dedi mengungkapkan alasan mengikuti kompetisi yang hampir semua pesertanya memiliki background ekonomi ataupun serupa adalah ICEI 2014 ini mengangkat tema yang menarik, yakni “Enhancing Competitiveness of Emerging Economies through Highly-Efficient Institution”. Tema ini memang sedang menjadi topik perbincangan hangat di kalangan ekonom,” jelas Dedi. Negara emerging economies merupakan negara yang sedang mengalami kemajuan ekonomi yang sangat pesat, contohnya adalah Indonesia, Turki, Rusia, China dan masih banyak lagi. Terdapat kekhawatiran para pakar ekonomi terhadap kemungkinan pertumbuhan emerging economies yang tidak berkesinambungan dan mengalami efek diminishing return terlalu dini. “Inilah tantangan yang diberikan pada kompetisi ini, dimana kita harus mencari cara bagaimana untuk menstabilkan pertumbuhan ekonomi pada negara emerging economies,” jelas Dedi.

“Harnessing Competitive Public Institutions to Lure Foreign Direct Invesrment: A Key to Sustain Robust Growth in Emerging Economies” merupakan judul esai yang mengantarkan Dedi meraih juara 1 dan memperoleh hadiah senilai 1000 USD. Proses seleksi yang sangat ketat dan dilakukan oleh beberapa profesor dan guru besar di bidang ekonomi serta linguistik membuktikan bahwa walaupun bukan berasal dari background ekonomi, mahasiswa teknik kimia ini mampu mengalahkan kurang lebih 40 peserta lainnya.

Terdapat dua poin utama yang dituangkan ke dalam esainya, yakni memanfaatkan institusi publik yang kompetitif untuk menarik Foreign Direct Investment (FDI). Menurut data yang dilansir dari World Economic Forum, rata-rata negara economic forum ini memiliki Global Competitiveness Index (GCI) yang rendah. Selain jalur birokrasi yang begitu sulit, institusi publik pada negara emerging economies terkenal akan tingkat korupsi yang sangat tinggi. Kedua hal inilah yang membuat reputasi institusi publik semakin menurun yang berimbas kepada enggannya investor untuk menginvestasikan dananya pada sektor-sektor bisnis di Indonesia.

Dalam esainya, Dedi menawarkan solusi yakni berupa pendirian suatu badan yang bertugas untuk mengurus investasi di Indonesia, Single Investment Board. “Sebenarnya badan seperti ini sudah ada di Indonesia, BKPM namanya, namun sayang kinerjanya belum efisien,” tambah Dedi. Single Investment Board ini terdiri dari perwakilan provinsi, kementrian, public chambers and agencies, serta pemerintah lokal. Dengan adanya koordinasi antar badan-badan ini diharapkan konsep pengurusan izin ‘satu atap’ dapat diwujudkan investor akan lebih mudah dalam melakukan proses penanaman modal di negara emerging economies dan berimbas pada stabilnya pertumbuhan ekonomi di negara tersebut.

Sumber: www.itb.ac.id

Share this