Posted March 26, 2015 by admin in Berita

Lima Mahasiswa Teknik Kimia ITB Sabet Dua Gelar Juara dalam Ajang CPDC UI 2015

5 Mahasiswa TK juara 1 ICDC 2015
5 Mahasiswa TK juara 1 ICDC 2015

Berinovasi merupakan kewajiban bagi setiap mahasiswa, terlebih lagi pada tahun 2015 ini Indonesia sedang memasuki fasa ASEAN Economic Community (AEC). Oleh karena itu, kemampuan untuk menciptakan ide baru sangat penting supaya Indonesia tetap mampu menghadapi persaingan ketat dengan negara tetangga. Sehubungan dengan ini, Lima mahasiswa Teknik Kimia ITBĀ  yang terdiri dari Christian Chandra, Christine Natalia, Clarissa Olivia, Tegar Perkasa, dan Winda Devina (Teknik Kimia 2011) menunjukkan kemampuan berinovasinya melalui gelar juara yang didapat dalam Chemical Product Design Competition (CPDC) 2015 di Universitas Indonesia pada Minggu(08/03/15).

Pada tahun 2015 ini, CPDC membawa tema yang berbeda dari tahun kemaren, yakni “Building Entrepreneurship through Development of Sustainable Chemical Products for Daily Life”. Oleh karena itu, peserta dituntut untuk membentuk suatu perusahaan yang akan memasarkan produk buatannya. Winda dan kawan-kawan tergabung dalam suatu perusahaan yang mereka beri nama Smiile.inc. Ide produksi super surfaktan dengan merek ‘StaiNo‘ yang mengantarkan mereka sehingga berhasil menyabet dua gelar juara sekaligus, yakni Juara 1 dan Juara Video Terbaik.

“Juara video terbaik kami peroleh berkat konsep video yang kami buat berbeda daripada yang lain. Video yang dibuat bukan hanya bersifat menjelaskan produk super surfaktan StaiNo ini, melainkan menampilkan iklan komersial dari StaiNo ini dengan tagline StaiNo Gain Confidence and be Stunning,”jelas Winda.

Kami harus sudah membuat protitpe StaiNo pada tahap pameran dan setiap tim mendapatkan stan masing-masing,” jelas Clarissa (Teknik Kimia 2011). Masing-masing tim tersebut mendemonstrasikan produknya kepada pengunjung yang datang. “Produk StaiNo ini sudah diuji pada pengunjung yang ketumpahan noda coklat di bajunya,” ungkap Christian (Teknik Kimia 2011). “Saat presentasi, kami mencoba untuk mempresentasikan produk kami dengan sebaik mungkin dan seprofesional mungkin. Konsep yang kami bawa pada saat presentasi bukan presentasi produk biasa melainkan seolah-olah sedang melakukan pitching bisnis,” jelas Christine (Teknik Kimia 2011). Clarissa menambahkan bahwa kepercayaan diri saat presentasi sangat penting. “Kita harus percaya diri dalam menyampaikan produk ini karena kami beranggapan no one knows better than us,” tambah Clarissa.

“Idenya diawali dengan permasalahan yang ada di kehidupan sehari-hari yakni terkena noda di baju disaat tidak memiliki waktu untuk membersihkan dengan cara biasa,” jelas Winda . Produk yang dibuat ini harusĀ  sustainable sehingga tim ini memutar otak untuk membuat StaiNo dari bahan-bahan limbah untuk membuat produk ini tetap sustainable. “Kami memanfaatkan limbah kulit pisang sebagai bahan utama dari produk StaiNo ini,” jelas Tegar (Teknik Kimia 2011).

Kulit pisang ini digunakan karena kandungan asam sitrat yang cukup tinggi dan merupakan zat aktif dari super surfaktan ini. Selain itu Indonesia juga merupakan salah satu penghasil pisang terbesar di dunia. Saat ini limbah kulit pisang masih belum. dimanfaatkan dengan baik sehingga masih menjadi sampah yang tidak ada nilainya. “Dengan adanya produk StaiNo ini, limbah kulit pisang yang tidak bernilai bisa dijadikan sesuatu yang bermanfaat dan bernilai jual,” jelas Winda. Terdapat bahan tambahan lain yang menjadi bahan baku super surfaktan StaiNo ini yaitu minyak kelapa. Kandungan sodiumcocosulfat dalam minyak kelapa inilah yang dimanfaatkan sebagai emulsifier pada StaiNo.

Yang membuat StaiNo menjuarai kompetisi ini adalah produk super surfaktan seperti StaiNo ini belum ada di Indonesia dan masih menjadi leading product hingga saat ini. “Selain itu produk StaiNo ini langsung bisa dibuktikan. Juri juga mengatakan bahwa produk StaiNo ini merupakan produk yang paling profitable dan bagus dalam sisi marketnya,” jelas Tegar. Christian menambahkan bahwa kedepannya produk StaiNo ini akan diproduksi secara massal dan kemudian dikomersialisasikan dalam kemasan 30 ml berbentuk roll on.

“Dalam mengembangkan suatu produk, kita harus bisa untuk thinking out of the box dari needs yang biasa kita rasakan sehari-hari kemudian diekspolarasi dan implementasikan dalam suatu produk nyata,” jelas Clarissa. Christine menambahkan bahwa sebagai seorang mahasiswa teknik kita juga harus membuka pikiran dan wawasan bahwa kemampuan inovasi itu sangat penting untuk dimiliki untuk dapat bersaing di dunia bisnis maupun profesional.

 

Sumber : www.itb.ac.id

Share this